98 Persen Warga RI Punya Antibodi COVID, Satgas Ungkap Kapan Boleh Copot Masker

JAKARTA-(nusantara7.id)-Hingga kini, Indonesia belum belum bebas dari ancaman lonjakan kasus COVID-19. Data terakhir pada Minggu (14/8/2022), Indonesia mencatat 53.127 kasus aktif COVID-19. Satgas Penanganan COVID-19 melaporkan, positivity rate COVID-19 RI masih berada di angka 11,04 persen, melebihi standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan angka 5 persen.
Ketua Bidang Perubahan Perilaku dari Satgas Penanganan COVID-19 dr Sonny Harry B Harmadi menyebut, tingkat kepatuhan masyarakat Indonesia pada protokol kesehatan sempat baik di momen libur Lebaran Mudik, kemudian menurun seiring waktu. Namun pada Agustus 2022, tingkat kepatuhan tersebut meningkat lagi berbarengan peningkatan COVID-19 RI.Dr Sonny memaparkan, mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 91,6 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran akan pentingnya penerapan protokol kesehatan, khususnya terkait pemakaian masker.

“Jadi kapan mereka pakai masker atau tidak, tergantung dari kondisi yang ada. Masyarakat kita dorong, kita edukasi tentang memahami besarnya risiko. Kalau sudah 91,6 persen yang punya kesadaran pribadi itu bagus, makanya kita lepas secara perlahan,” ujarnya dalam siaran langsung BNPB Indonesia bertajuk ‘Sambut Kemerdekaan, Prokes Jangan Kendor’, Senin (15/8/2022).”Kita kan nggak bisa terus-menerus pakai masker kan. Pakai masker itu dibiasakan saat kita tidak sedang sehat, atau ada risiko penularan, tidak bisa jaga jarak dan seterusnya,” bebernya.”Oleh karenanya, ada pelonggaran masker di luar ruangan. Diperbolehkan tidak menggunakan masker (di luar ruangan) dengan syarat menjaga jarak. Kalau tidak bisa menjaga jarak, maka harus pakai masker,” pungkas dr Sonny.

Beberapa waktu lalu, hasil serosurvey tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengungkap 98,5 persen warga sudah memiliki antibodi COVID-19. Pemilik titer antibodi tertinggi berada pada kelompok lansia karena memulai lebih dulu vaksinasi booster. Namun, tingkat antibodi ini tidak bisa dijadikan patokan ‘kekebalan’ komunitas di masyarakat lantaran masih ada risiko infeksi, terlebih jika kembali muncul varian baru Corona.(AGP/R)

source:detikhealhth.com

Baru! Tayangan Video dari Bali Digital Channel
klik: https://s.id/BaliDigitalChannel

#BaliDigitalChannel #Nusantara7

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF