Anak-anak diberi pendidikan lingkungan hidup

Fakfak, (Nusantara7.id) – Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia memberikan pendidikan lingkungan hidup atau PLH bagi anak-anak di kawasan konservasi taman perairan Teluk Berau dan kawasan konservasi taman perairan Teluk Nusalasi-Van Den Bosch kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.

Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia Bidang Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pendidikan Konservasi, Fitriyanti Killian di kampung Ugar, Senin, mengatakan bahwa kabupaten Fakfak punya dua kawasan konservasi perairan yakni kawasan konservasi taman perairan Teluk Berau dan kawasan konservasi taman perairan Teluk Nusalasi-Van Den Bosch.

Dia mengatakan bahwa anak-anak pada dua kawasan konservasi perairan tersebut diberikan pendidikan lingkungan hidup dan konservasi guna mengedukasi secara dini pentingnya menjaga kelestarian alam untuk kehidupan yang berkelanjutan.

Menurut dia, pendidikan lingkungan hidup tersebut dilakukan bagi anak sekolah dasar dimulai dari kelas empat sampai kelas enam. Hanya saja jumlah siswa kelas empat sampai enam yang ada pada sekolah-sekolah di kawasan konservasi perairan tersebut sedikit sehingga pendidikan lingkungan hidup dilakukan bagi seluruh siswa dari kelas satu sampai enam.

Ia menjelaskan bahwa pola PLH dilakukan dengan cara belajar sambil bermain di alam terbuka menggunakan peralatan yang memudahkan anak-anak konservasi dan biota laut serta satwa dilindungi.

Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia Bidang Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pendidikan Konservasi, Fitriyanti Killian saat memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada anak-anak di kampung Ugar, Senin (30/5). (ANTARA/ Ernes Broning Kakisina)

Dikatakan bahwa kegiatan PLH tersebut ada satu modul berisikan sembilan materi yang digunakan untuk mengedukasi anak-anak memahami konsep Konservasi. Modul tersebut dinamakan dari gunung sampai ke laut dimana dalam modul ada materi tentang satwa yang dilindungi di darat sampai biota laut yang dilindungi.

Selain itu, materi pelestarian air bersih dan juga materi kemana sampah pergi. Khusus konsep kemana sampah pergi anak-anak diajak bermain ke gunung melihat masyarakat di gunung buang sampah dan kemudian sampah tersebut hanyut pada aliran sungai sampai ke laut hingga merusak ekosistem terumbu karang.

Modul tersebut juga menceritakan jaring-jaring kehidupan di laut dan juga jaring-jaring kehidupan di pegunungan. Ada materi juga tentang mengenal dunia kehutanan dimana menceritakan tentang ada tiga jenis hutan yakni hutan konservasi, hutan produksi, dan hutan lindung serta cagar alam kabupaten Fakfak.

Dikatakan bahwa selama ini hanya orang tua saja yang banyak mendapat pelatihan dan edukasi tentang lingkungan hidup dan konservasi sedangkan anak-anak jarang mendapat perhatian serupa.

Karena itu, lanjut dia, pendidikan lingkungan hidup dan konservasi dilakukan bagi anak-anak sehingga mereka teredukasi dengan baik. Sebab anak-anak sangat polos dan mereka yang sudah teredukasi bisa langsung menegur orang tua yang melakukan hal-hal pencemaran lingkungan seperti buang sampah sembarang tempat.

Ia berharap agar Modul pendidikan lingkungan hidup tersebut masuk dalam kurikulum muatan lokal pada setiap sekolah dasar yang ada di Kabupaten Fakfak.(AGP/DN)

source : https://jogja.antaranews.com/

Baru! Tayangan Video dari Bali Digital Channel
klik: https://s.id/BaliDigitalChannel

#BaliDigitalChannel #Nusantara7

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF