BUDAYA DAN TRADISI UNIK DI BALI

(nusantara7.id)-Budaya dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur, jika dilestarikan sampai sekarang ini tentu akan menjadi sebuah tradisi unik, seperti yang kita banyak temukan di wilayah Indonesia termasuk juga Bali, warisan atau peninggalan budaya masa lampau tersebut, yang banyak berasal dari warisan Bali kuno.

Budaya dan tradisi yang diwariskan tersebut terkadang menjadi salah salah satu cara hidup sekelompok masyarakat yang masih tradisional dan menjadi sesuatu hal yang sangat menarik untuk diketahui, tidak hanya bagi wisatawan, bahkan juga bagi warga lokal.

Sejumlah tradisi unik yang disuguhkan menjadi sebuah atraksi dan sebagai suguhan bagi wisatawan yang liburan ke pulau Bali. Budaya serta tradisi unik tersebut masih bisa berkembang dan dilestarikan sampai sekarang ini sangat berkaitan dengan keyakinan masyarakat akan ritual atau prosesi yang terbungkus dalam sebuah tradisi.

 

Keyakinan masyarakat akan tradisi yang dilakukan oleh warga pada sebuah tempat, berdasarkan keyakinan warga setempat, seperti keyakinan akan terjadi musibah jika tradisi atau ritual tersebut tidak dilakukan.Juga karena berhubungan dengan keyakinan beragama untuk penghormatan kepada Tuhan ataupun pada leluhur, sehingga menjadi sebuah budaya bagi masyarakat di pulau Bali.

Tradisi unik yang digelar pada sejumlah tempat di pulau Bali tersebut, menjadi hal yang istimewa untuk dinikmati oleh wisatawan, apalagi mereka yang kebetulan liburan di pulau Dewata, bisa menemukan sejumlah kebiasaan atau hal-hal tradisional pada zaman modern sekarang ini akan kan mendapatkan pengalaman istimewa yang tidak bisa ditemukan di daerah lainnya.

Macam-Macam Budaya Dan Tradisi Unik Di Pulau Bali

Berikut macam-macam tradisi unik yang ada di beberapa tempat di pulau Bali, serta penjelasan detailnya berikut;

1. Pemakaman Desa Trunyan

Tengkorak manusia di Desa TrunyanPada umumnya orang meninggal di Bali, terutama bagi umat Hindu selain dikubur bisa dibakar atau dikremasi langsung, namun demikian suatu tradisi unik dengan budaya yang berbeda bisa anda temukan di Desa Trunyan Kintamani, kabupaten Bangli, yang juga merupakan salah satu desa Bali Aga.

Pada saat orang meninggal, maka tubuh atau jasad orang tersebut hanya diletakkan di bawah pohon Menyan, jasad tersebut diletakkan di atas tanah tanpa dikubur, hanya dipagari oleh bambu (ancak saji) agar tidak dicari oleh binatang atau hewan liar.

Anehnya tidak sedikitpun dari jasad tersebut berbau busuk, sampai akhirnya tinggal tersisa tulang belulang saja, dan tulang belulang itu nantinya diletakkan pada sebuah tempat di kawasan tersebut, pemakaman di Trunyan ini melengkapi daftar budaya dan tradisi unik bumi Nusantara – Indonesia.

Karena keunikan tersebut pemakaman desa tradisional Trunyan menjadi destinasi wisata yang menjadi tujuan tour wisatawan ketika liburan di pulau Dewata.

2. Tradisi Mekare-kare

Tradisi Mekare-kare di TengananMekare-kare ini dikenal juga dengan perang pandan, tradisi unik di pulau Bali hanya dilakukan di desa tradisional Tenganan, Karangasem yang dikenal juga sebagai desa Bali Aga.Perang dilakukan berhadap-hadapan satu lawan satu dengan masing-masing memegang segepok pandan berduri sebagai senjata. Desa Tenganan juga merupakan salah satu desa Bali Aga, yang mengklaim sebagai penduduk Bali Asli.

Mekare-kare atau perang Pandan digelar saat Ngusaba kapat (Sasih Sambah) atau sekitar bulan Juni. Budaya dan tradisi unik tersebut digelar di halaman Bale Agung dilangsungkan selama 2 hari dan dimulai jam 2 sore.

Ritual atau prosesi tersebut bertujuan untuk menghormati Dewa Perang atau Dewa Indra yang merupakan dewa Tertinggi bagi umat Hindu di Tenganan. Desa ini menjadi salah satu destinasi wisata dan tujuan tour populer di pulau Bali.

3. Tradisi omed-omedan

Tradisi Omed omedan di BaliBudaya dan tradisi unik ini digelar di tengah kota Denpasar, tepatnya di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan. Digelar setahun sekali, bertepatan saat hari Ngembak Geni atau sehari setelah hari Raya Nyepi, tradisi unik dimulai sekitar pukul 14.00 selama 2 jam.

Prosesi ini hanya diikuti oleh kalangan muda-mudi atau yang belum menikah dengan umur minimal 13 tahun, omed-omedan berarti tarik menarik antar pemuda dan pemudi warga banjar dan terkadang dibarengi dengan adegan ciuman diantara keduanya.

Tradisi ini digelar sebagai wujud kegembiraan setelah pelaksanaan Hari Raya Nyepi, ini sebuah warisan budaya leluhur di pulau Bali, memiliki nilai sakral dan dipercaya akan mengalami hal buruk jika tradisi ini tidak dilangsungkan.

Tradisi ini menjadi salah satu atraksi wisata yang bisa dinikmati wisatawan saat liburan di pulau Dewata Bali pada hari Ngembak Geni, jika pada saat hari tersebut anda mengagendakan tour, maka usahakan sebelum sore hari suda tiba di hotel, karena jalan-jalan banyak yang ditutup dan dialihkan.

4. Tradisi mekotek

Tradisi Mekotek di MungguProsesi atau ritual Mekotek ini hanya bisa anda temukan di desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Dikenal juga dengan Gerebeg Mekotek, tradisi unik di pulau Bali ini digelar setiap 6 bulan (210 hari) sekali, tepatnya saat perayaan Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan).

Prosesi ini digelar dengan tujuan tolak Bala untuk melindungi dari serangan penyakit dan juga memohon keselamatan.

Pada mulanya tradisi Mekotek, menggunakan tongkat besi, untuk menghindari agar peserta tidak ada yang terluka, maka digunakanlah kayu Pulet sepanjang 2-3.5 meter yang kulitnya sudah dikupas sehingga terlihat halus.

Tongkat-tongkat tersebut dipadukan menjadi satu formasi sebuah kerucut, suara “tek,tek” kayu berbenturan tersebut sehingga dikenal dengan Mekotek. Budaya dan tradisi unik di Badung Bali ini masih terjaga lestari sampai sekarang ini.

5. Gebug Ende Seraya

Gebug Ende SerayaAtraksi ini dikenal juga dengan perang rotan, yang mana dua orang laki-laki berhadap-hadapan dan saling serang dengan sebatang rotan sepanjang 1.5-2 meter kemudian tangan satunya memegang tameng untuk menangkis serangan lawan.

Diantara keduanya dibatasi dengan batang rotan (garis tengah) agar tidak masuk ke wilayah lawan. Perang rotan ini tidak hanya perlu ketangkasan saja tetapi juga keberanian, karena setiap peserta bisa saja kena pukulan rotan lawan.

Tradisi unik di desa Seraya, Karangasem – Bali Timur ini menjadi sebuah budaya yang diwariskan sampai sekarang, tujuan utama dari prosesi Gebug Ende ini adalah ritual tradisional untuk memohon hujan, dan ini dilakukan pada musim kemarau yaitu di bulan Oktober – Nopember setiap tahunnya.

Kondisi geografis dari desa Seraya yang berada di wilayah perbukitan memang rentan dengan masalah air, itulah sebabnya ritual memohon hujan ini dilangsungkan di desa ini. Seraya juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang bisa dikunjungi saat tour di pulau Bali.

6. Tradisi mesbes bangke

Tradisi Mesbes Bangke di Tampak Siring GianyarSebuah budaya dan tradisi yang benar-benar ekstrim dan unik di pulau Bali. Tradisi ini berlangsung di Banjar Buruan, Tampak Siring, Gianyar. Tradisi ini memang  sangat unik, tradisi Mesbes Bangke atau mencabik-cabik mayat terlihat mengerikan dan menyeramkan.

Apalagi bagi mereka yang baru pertama kali ataupun mengenal tradisi tersebut. Yang mana jasad atau mayat seseorang yang akan dikremasi (ngaben), akan dicabik-cabik oleh warga banjar Buruan sebelum menuju tempat pembakaran mayat, mayat tersebut akan ditunggu oleh warga di luar pekarangan rumah.

Setelah mayat tersebut keluar dari pintu gerbang rumah, barulah warga mencabik-cabik mayat tersebut, karena bersemangat, bahkan ada sampai naik ke atas mayat yang sedang diusung.

Tradisi hanya ini berlaku untuk mereka yang ngaben sendiri (pribadi) tidak berlaku untuk ngaben massal. Budaya dan tradisi unik di Gianyar ini masih berlangsung sampai sekarang ini.

7. Tradisi makepungTradisi MakepungMakepung sendiri berarti berkejar-kejaran, menggunakan sepasang hewan kerbau, dan di pulau Dewata Bali hanya bisa anda temukan di kabupaten Jembrana, sehingga dengan tradisi Makepung ini, kabupaten Jembrana dikenal juga dengan “Bumi Makepung”.

Adu kecepatan dengan kerbau dikendalikan oleh seorang joki atau sais, berlomba mengejar kerbau yang berpacu di depannya, pemenangnya ditentukan oleh kerbau yang mampu mempersempit atau memperlonggar jarak pacuan antara dua pasang kerbau yang berkejar-kejaran, tidak ditentukan siapa yang lebih dulu ke garis finish.

Ini menjadi tradisi tahunan yang diikuti oleh kelompok tani di Jembrana. Kerbau pacuan dipilih dan diperlakukan khusus bak seorang atlet, bahkan sebelum perlombaan dimulai pemilik tidak lupa melakukan ritual. Digelar setiap Minggu di antara bulan Juli sampai November setiap tahunnya.

Atraksi wisata ini bisa mengisi itinerary tour anda, saat anda liburan pada waktu yang tepat ke kawasan pariwisata Bali Barat di kabupaten Jembrana.

8. Tradisi megibung di Karangasem

Tradisi megibung di Karangasem BaliTradisi makan bersama saat ada hajatan upacara adat menjadi budaya masyarakat Karangasem di Bali Timur, seperti saat ada acara pernikahan, otonan, 3 bulanan ataupun upacara adat lainnya, masih bertahan sampai sekarang ini di Kabupaten Karangasem.

Walaupun beberapa warga sekarang ini terkadang menyiapkan makan prasmanan (makan jalan) saat ada hajatan, tetapi tradisi megibung ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Bahkan pada waktu Bupati Karangasem I Wayan Geredeg pernah menggelar megibung massal di objek wisata Taman Ujung Karangasem dan memecahkan rekor Muri.

Megibung atau makan bersama oleh sekelompok orang yang terdiri dari 5-6 orang dinamakan “sele” duduk mengitari “gibungan” yaitu segepok nasi di atas dulang atau nampan.

Gibungan disajikan lengkap dengan sayur dan lauk pauk yang dinamakan “karangan” dan kemudian mereka makan bersama menikmati menikmati gibungan dan karangan.

9. Tradisi mesuryakTradisi Mesuryak di BonganSebuah tradisi unik di pulau Bali yang merupakan warisan budaya leluhur ini hanya bisa ditemukan di desa Bongan, Kabupaten Tabanan.

Budaya dan Tradisi di Tabanan ini digelar bertujuan untuk penghormatan terhadap para leluhur dengan secara suka cita, bersorak beramai-ramai dengan memberikan perbekalan seperti beras dan uang.

Tradisi bersorak beramai-ramai ini kemudian dibarengi dengan melempar uang ke udara dan diperebutkan oleh warga dinamakan tradisi Mesuryak. Tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali yaitu pada Hari Raya Kuningan.

Rangkaian prosesi ini berkaitan dengan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, setelah leluhur hadir di tengah keluarga mulai dari hari Raya Galungan, kemudian pada saat Kuningan diantar kembali ke Nirwana dengan berbagai sesajen dan perbekalan.

10. Upacara melasti

Upacara Melasti di BaliMelasti dilakukan setiap tahun sekali dalam rangkaian Hari Raya Nyepi di Bali, namun demikian upacara Melasti juga dilakukan pada hari-hari tertentu saat piodalan pada sebuah pura sesuai dengan hari yang ditentukan.

Melasti dikenal dengan mekiis atau melis menuju tempat-tempat sumber air seperti laut, danau ataupun mata air. Namun Melasti atau melis di pulau Bali secara serempak digelar setiap setahun sekali yaitu 3-4 hari sebelum hari raya Nyepi sekitar bulan Maret.

Saat Melasti semua pretima, senjata nawa sanga, umbul-umbul dan kober di arak ke sumber air seperti ke laut untuk disucikan dan menghanyutkan segala malaning bumi ataupun kotoran, dimaksudkan juga menghanyutkan segala penderitaan manusia melalui air kehidupan.

Kemudian dilanjutkan prosesi menyucikan diri dengan angamet (mengambil) tirta amertha, untuk mendapatkan sari-sari kehidupan. Budaya dan tradisi ini menjadi warisan budaya leluhur Bali yang terjaga dengan baik sampai saat ini.

11.Pawai  ogoh-ogohPawai ogoh-ogoh di BaliTradisi mengarak ogoh-ogoh di Bali ini digelar tepat sehari sebelum hari Raya Nyepi, sekitar jam 6-6.30 sore ogoh-ogoh mulai diarak keliling desa ataupun kota, hampir sebagian besar warga Hindu di pulau Bali ini menggelar pawai ogoh-ogoh, ini mereka lakukan karena berhubungan dengan ritual keagamaan.

Ogoh-ogoh adalah sebuah boneka raksasa yang merupakan simbol dari Bhuta Kala, dibuat dengan wujud menyeramkan atau simbol sebuah kejahatan, yang paling dominan berwujud raksasa menyeramkan, binatang atau bahkan wujud seorang penjahat.

Prosesi pawai ogoh-ogoh tersebut masih dalam rangkaian pelaksanaan Hari Raya Nyepi, setelah sebelumnya diadakan Tawur Kesanga memberikan upah kepada Bhuta Kala, kemudian petang harinya diusir dan diarak keliling dalam bentuk pawai.

Ini dilakukan agar tidak mengganggu kehidupan manusia lagi, terutama esok harinya saat melaksanakan hari raya Nyepi. Jika anda ada acara tour pada saat tersebut, diusahakan jangan sampai sore, karena jalan banyak yang tutup.

12. Hari  raya  nyepiSuasana Nyepi di BaliSiapa pula yang tidak kenal dengan perayaan Hari Raya Nyepi di pulau Bali, hari raya ini digelar sekali dalam setahun sebagai penyambutan tahun baru Isaka yang jatuhnya pada bulan mati (Tilem) sasih Kesanga.

Sebuah penyambutan tahun baru yang berbeda, yaitu dengan kesunyian, ketenangan, lengang dan sepi, itulah sebabnya semua warga pada saat hari raya Nyepi tersebut tidak boleh bepergian, menghidupkan api, membuat kegaduhan ataupun bersenang-senang.

Termasuk fasilitas umum juga tutup kecuali rumah sakit. Tujuan dari perayaan ini untuk bisa introspeksi diri atau mulat sarira dan merenung dalam suasana hening bisa berkonsentrasi lebih maksimal, seharian tinggal di rumah dan bersembahyang melakukan brata dan meditasi.

Agar nantinya bisa memulai kehidupan yang lebih baik pada bulan berikutnya pada sasih Kedasa, semua kedas, bersih dan suci untuk memulai lagi kehidupan baru. Budaya dan tradisi ini menjadi salah satu hal unik bagi mereka yang liburan ke Bali.

13. Upacara  ngaben  di  baliUpacara Ngaben di BaliMayoritas warga Hindu di pulau Bali melakukan upacara Ngaben saat orang meninggal, walaupun ada beberapa tidak melaksanakan upacara Ngaben seperti pada penduduk Bali Aga contohnya desa Tenganan dan Trunyan.

Saat  upacara Ngaben, jasad atau tubuh orang meninggal bisa dikubur terlebih dahulu ataupun dikremasi langsung. Upacara Ngaben digelar adalah wujud bakti manusia dan kewajiban suci kepada leluhurnya atau orang yang telah meninggal.

Tujuan upacara Ngaben mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta dari tubuh kasar manusia ke asalnya dan badan halus (atma) yang telah meninggalkan lebih cepat mendapat penyucian dan kembali kesisi-Nya.

Tata cara pelaksanaan Ngaben pun tidak selalu sama sesuai dengan situasi, kondisi dan tempat Ngaben tersebut berlangsung, namun yang terpenting esensi atau tujuannya sama.

Karena Hindu tidak di Bali saja tetapi menyebar di kepulauan Indonesia memiliki budaya dan tata cara berbeda. Budaya dan tradisi unik ini menjadi salah satu atraksi wisata bagi wisatawan yang sedang liburan di Bali.

14. Sapi gerumbungan di bulelengSapi Gerumbungan di BulelengBudaya dan Tradisi unik di kawasan Bali Utara ini memperlombakan sepasang sapi yang pada lehernya dipasangi sebuah genta besar yang dinamakan “Gerumbungan” kemudian sapi dihiasi berbagai aksesoris agar terlihat gagah dan indah.

Pada kedua leher kedua sapi itu saling dikaitkan dengan sebatang kayu melintang bernama “uga” kemudian di tengahnya sebuah kayu melintang sepanjang 3 meter untuk seorang sais atau joki mengendalikan sapi tersebut.

Yang dipilih adalah sapi jantan saja itupun yang berbadan kekar. Kriteria pemilihan pemenang dan penilaian bukan berdasarkan ada kecepatan, penilaian berdasarkan keserasian gerak seperti gerak kaki yang seragam, ekor sapi yang melengkung ke atas dan kepala sapi yang mendongak ke atas.

Sebagai budaya warisan leluhur agar tetap lestari, maka sapi Gerumbungan digelar setiap HUT kab. Buleleng di Bulan Agustus. Atraksi wisata di pulau Bali bisa menjadi hiburan wisata menarik.

15. Tradisi NgerebongTradisi Upacara Ngerebong di KesimanKata Ngerebong berasal dari kata “ngereh” dan “baung” sehingga menjadi ngerebong, penggabungan dua kata tersebut berarti juga akasa pertiwi atau atas bawah, ada juga yang mengartikan Ngerebong tersebut berkumpul, diyakini saat tersebutlah Dewa sedang berkumpul dan melakukan ritual yang tepat.

Pada saat prosesi Ngerebong warga desa Kesiman, Denpasar berkumpul di Pura Pengrebongan, Desa Kesiman Denpasar, mengarak Barong dan Rangda sebagai simbol atau petapakan Ida Bhatara mengelilingi wantilan sebanyak tiga kali diiringi juga oleh gamelan baleganjur.

Saat berkeliling tersebut banyak warga yang kerauhan atau trans, warga tersebut ada yang mengeram, berteriak, menari dan ada juga menangis, mereka juga melakukan adegan berbahaya meminta keris untuk ditancapkan di tubuh, leher ataupun kepala, tetapi anehnya tidak satupun yang terluka, mereka yang kerauhan tersebut semuanya kebal tidak terlukai.

Tradisi unik di pulau Bali ini digelar 6 bulan sekali yaitu pada hari Minggu, Pon wuku Medangsia atau 8 hari setelah Hari Raya Kuningan. Budaya dan tradisi warisan leluhur ini memang sangat unik, bisa menjadi atraksi wisata yang diminati bagi mereka yang sedang liburan di Bali.

(AGP/R)

Baru! Tayangan Video dari Bali Digital Channel
klik: https://s.id/BaliDigitalChannel

#BaliDigitalChannel #Nusantara7

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF