Buku ‘Gamelan Gender Wayang’ Memperdalam Khazanah Seni Tradisional Bali

(NS7) – Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali I Nyoman Mariyana SSn MSn dan Ni Putu Hartini SSn MSn merilis buku ‘Gamelan Gender Wayang’ sebagai referensi etika, estetika, serta filsafat yang terkandung di dalam alat musik tradisional Bali tersebut.

Buku Gamelan Gender Wayang setebal 347 halaman tersebut, selain membahas tata cara memainkan gamelan gender wayang, juga membahas terkait sejarah, tokoh-tokoh seniman gender wayang, serta mengenai makna dan filosofi yang terkandung di dalam gamelan gender wayang tersebut.

“Jika telah memahami perkembangan, sejarah, aspek musikalitas, keberagaman teknik permainan, filosofi hingga fungsi maka masyarakat akan dapat memaknai lebih dalam lagi keindahan dari gamelan gender wayang tersebut,” jelas I Nyoman Mariyana yang juga pemilik Sanggar Kebo Iwa di Sempidi, Kabupaten Badung ini.

Buku yang disusun sejak 2020 diharapkan bisa menambah wawasan dan memperdalam kekayaan intelektual terkait keberadaan gamelan tradisional Bali.

Buku ini disusun bersama Ni Putu Hartini, dosen yang juga putri dari seniman I Wayan Suweca. “Saya terinspirasi pada tesis yang dibuat oleh Ni Putu Hartini dengan judul Gender Wayang pada Pekan Seni Remaja Kota Denpasar tahun 2017,” ungkap Mariyana.

Keberadaan gamelan gender wayang sebagai salah satu gamelan yang tergolong tua di Bali telah mengalami perkembangan secara kuantitas. Kini gamelan ini tidak saja dimiliki oleh kelompok-kelompok atau sekaa tertentu, namun  juga dimiliki oleh perorangan. “Penyebarannya sangat luas hingga ke pelosok daerah bahkan ke mancanegara. Kemajuan daya cipta sang seniman juga mempengaruhi perkembangan bentuk instrumen hingga nada-nada gamelan ini,” ujar dosen Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar ini.

Fungsi gamelan ini diketahui juga sangat representatif dari pengiring ritus hingga perhelatan akbar. “Keberadaan alat musik tradisional gender wayang di Bali memegang peran penting dalam beberapa kegiatan atau upacara adat, seperti metatah (potong gigi), ngaben, dan piodalan di suatu Pura,” jelas seniman  kelahiran 8 Maret 1985 ini.

Mariyana mengungkapkan banyak peran tokoh-tokoh dan narasumber dari para seniman, dalam mewujudkan buku gamelan gender wayang tersebut. “Banyak yang berperan tidak bisa saya sebutkan satu per satu, contohnya beberapa seperti I Wayan Suweca, I Nyoman Sumandhi, I Wayan Sarga, I Gusti Sudartha, I Made Subandi,” sebutnya.

Mariyana pun sangat terbuka untuk segala bentuk kritik dan saran sangat  guna penyempurnaan penelitian/bukunya. “Dengan adanya buku ini semoga dapat mewujudkan kelestarian kesenian dan gamelan gender wayang. Saya pun berharap buku ini juga dapat berguna bagi masyarakat pencinta karawitan Bali khususnya, pencinta gamelan gender wayang,” harap Mariyana.

Perlu diketahui Mariyana pun sebelumnya juga telah menerbitkan sebuah buku tentang gamelan Bali yang berjudul ‘Gamelan Gambang Kwanji Sempidi: Kajian Sejarah, Musikalitas dan Fungsi’ pada Juni 2020.

(AR)
Sumber :nusabali.com
Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF