I Gusti Gede Pulaki

Denpasar, (NS7) – I Gusti Gede Pulaki, sebuah kisah yang diceritakan berkaitan dengan hilangnya sebuah desa di pulaki dan semua penduduknya berubah wujud menjadi harimau pada saat kedatangan Batara Nirartha untuk pertama kalinya berlabuh di Bali.

Dalam Babad Arya Gajah Para, Beliau I Gusti Gede Pulaki disebutkan merupakan putra sulung dari I Gusti Arya Getas.

Diceritakan Batara Nirartha, beliau menemukan kemurahan batin, datang ke Bali, menaiki buah labu (waluh kele), dan sampan yang bocor, mendarat di tepi pantai Purancak, mampir di pondok I Gusti Gede Pulaki, beserta putra putri beliau semua.

Setelah tiba di pondok I Gusti Gede Pulaki, disambut dan diterima oleh I Gusti Gede Pulaki dengan ramah,

  • Beliau berucap “Aum-aum hamba sangat bahagia atas kedatangan sang pendeta, apa tujuan tuan pendeta, katakan yang sebenarnya”,
  • Danghyang Nirartha menjawab, “Aum Ngurah Gede Pulaki, tujuan saya datang padamu, maksud saya untuk menyembunyikan putraku sekarang, takut saya jika ia datang di kerajaan menghadap pada raja,
    • karena harum semerbak bau tubuhnya, juga sangat cantik paras mukanya, maksud saya sekarang untuk menyatukan kembali ke alam sepi (alam gaib), 

I Gusti Gede Pulaki menyetujui dan berkenan mengantar, seraya memohon ikut ke alam gaib ia bersedih dan berduka karena terputus keturunannya, tidak ada lagi putranya, diam ( lah ) Batara Nirartha, memikirkan perasaan hati I Gusti Gede Pulaki.

  • Maka bersabdalah Batara Nirartha, sabdanya, “Duhai Ngurah Pulaki, apa sebabnya demikian, menjadi sangat sedih perasaan hatimu, janganlah engkau demikian”. 
  • Bersikeras I Gusti Gede Pulaki, memohon restu, agar ia mengiringkan menuju alam gaib. 

Dengan demikian dikabulkan semua perkataan I Gusti Gede Pulaki, bersama putra beliau, beserta semua prajuritnya mengiringkan putra beliau (Batara Nirartha) tidaklah nampak lagi di alam nyata oleh semua orang.

Diceritakan sekarang berhubung dipenuhinya permintaan I Gusti Ngurah Pulaki, senanglah hati beliau, maka menyiapkan prajurit, kemudian disuruh membuat upacara selamat, di Pura Dalem, lengkap dengan sanggar cucuk, masing-masing pasukannya disuruh untuk memasang di pintu masing-masing, pada hari Kamis Kliwon, lengkap dengan sesajennya.

  • Dengan sekuat tenaga Batara Nirartha melakukan yoga smertti terhadap Batara Berawa, beserta penghormatan dan permohonan, 
  • kemudian dianugerahi beliau oleh Batara sarana untuk tidak tampak di alam ini oleh semua orang.

Segera setelah itu ada terlihat tabung bambu kuning bergelayutan, tanpa gantungan, dari dalam sebuah tempat pemujaan di kahyangan ( pura ), tidak lama kemudian keluar baju loreng, dari lubang tabung bambu kuning tersebut.

  • Segera diambil baju itu oleh semua orang. Demikian pula I Gusti Ngurah Pulaki, sama-sama disuruh mengenakan pakaian itu, masing-masing sebuah, di sana orang-orang itu semua
  • dan I Gusti Ngurah Pulaki segera berubah wujud menjadi harimau,
  • desa tempat tinggal itu hilang tidak tampak di alam ini.
  • Adapun putra beliau Batara Nirartha secara gaib menyatu di alam tidak tampak tersebut, berdiam di Melanting,
    • di puja oleh orang yang tidak kelihatan (samar), sampai sekarang.

Cerita kembali lagi, sewaktu I Gusti Ngurah Pulaki memohon berubah wujud menyatu dalam alam tidak tampak mengikuti Batara di Melanting,

  • adiknya yang bernama I Gusti Ngurah Pegametan sedang tidak ada di rumah,
  • beliau pergi mengunjungi Bendesa Kelab yang berada di Jembrana.
  • Beberapa hari berada di sana dan akhirnya kembali pulang dia ke Pulaki bersama semua pengiringnya,

Tidak diceriterakan dalam perjalanan I Gusti Ngurah Pegametan bersama semua pengiringnya segera sampai di perbatasan desa,

  • kaget perasaannya I Gusti Ngurah Pegametan,
  • karena tidak seperti sedia kala, bingung perasaan I Gusti Ngurah Pegametan ………………….

 “Wahai saudaraku, apa sebabnya tidak tampak olehku penduduk desa itu, tidak seperti sedia kala tempat tinggal desaku saat ini “.

Kemudian terdengarlah suara-suara binatang bercampur dengan suara harimau, mengaum ribut tiada tara. Terkejut perasaan I Gusti Ngurah Pegametan, tidak kepalang tanggung hati I Gusti Ngurah Pegametan, ingin mengadu keberaniannya, beliau marah dan mengumpat-umpat, ujarnya

 ” Hai engkau harimau semua, tampakkanlah wujudmu, hadapi keberanianku sekarang.

Segera I Gusti Ngurah Pegametan melangkah, tidak kelihatan yang bersuara gemuruh itu, kemudian beliau berjalan hendak meninjau Toya Anyar.

  • Berjalan beliau bersama prajurit sampai tiba di Rajatama,
  • perjalanannya diikuti oleh wujud yang maya itu, sekilas tampak berupa harimau, semua pengikut itu perasaannya menjadi takut, semakin mendekat harimau itu, perilakunya seperti orang menghormat, menunduk pada I Gusti Ngurah Pegametan, kemudian mengumpat serta menghunus keris.
    • Jadi hilang rupa bayangan itu, 
    • segeralah beliau melanjutkan perjalanan. 

Tidak diceritakan desa yang telah dilewati, orang-orang yang mengiringinya, diceritakan sekarang telah sampai di desa Wana Wangi, banyak pengiring itu berlarian teringat para pengiring yang hilang sebanyak lima puluh orang,

 karena jurangnya menyulitkan berbahaya dan terjal diliputi oleh gelap, tidak terlihat keberadaan di dalam hutan.

Tidak terpikir oleh I Gusti Ngurah Pegametan, tidak menghiraukan lembah terjal perjalanan beliau, segera sampai di Samirenteng. Menuju ke timur perjalanan beliau, sampailah beliau di hutan sekitar Sukangeneb Toya Anyar.

Beristirahatlah beliau di sana, dihitung prajuritnya, dulu diiringi oleh dua ratus prajurit, telah hilang tersesat lima puluh orang, sekarang pengiringnya tinggal seratus lima puluh orang, itulah sebabnya ( tempat itu ), bernama Desa Karobelahan sampai sekarang.

Sumber : sejarahbabadbali.blogspot.com
(GC)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF