Makna Tradisi Mekotek Desa Munggu Bali saat Hari Raya Kuningan

(NS7) – Desa Munggu di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali memiliki tradisi Mekotek yang kerap dilakukan saat Hari Raya Kuningan. Tradisi tersebut ternyata sudah ada sejak zaman Kerajaan Mengwi. Bahkan tradisi Mekotek telah mendapat sertifikat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sertifikat yang diberikan pada 27 Oktober 2016 tersebut menyatakan bahwa tradisi Mekotek dianggap sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Baca juga: 3 Hal yang Perlu Diketahui Seputar Hari Raya Kuningan Tradisi yang bertujuan untuk menolak bala dan memohon keselamatan tersebut diikuti oleh para pria yang bertugas untuk memegang kayu pulet dan para wanita yang bertugas untuk mengiringinya.

Dalam perayaannya, warga desa akan berkumpul terlebih dahulu di depan Pura Puseh Desa Adat Munggu. Selanjutnya, mereka akan mengawali tradisi Mekotek dengan bersembahyang bersama. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Setelah itu, mereka akan berjalan kaki mengelilingi seluruh desa dengan membawa tongkat kayu pulet. Usai berkeliling, mereka akan kembali ke pura awal. Selanjutnya, para peserta akan dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing terdiri dari sekitar 50 orang.

Awalnya, mekotek adalah ekspresi kegembiraan prajurit Kerajaan Mengwi setelah mengalahkan Kerajaan Blambangan di Jawa. Mekotek ditandai dengan arak-arakan keliling desa membawa tongkat kayu, tombak pusaka, dan umbul-umbul. Mekotek juga dipercaya sebagai upaya menolak bencana dan pemersatu masyarakat. Tradisi mekotek tetap dilangsungkan warga setiap enam bulan, yang bertepatan dengan hari raya Kuningan.

Kemudian, tradisi Mekotek pun dimulai. Kayu pulet yang dibawa oleh para peserta akan diadu membentuk seperti sebuah piramid. Para peserta yang memiliki keberanian dapat mencoba adu nyali dengan naik ke puncak piramid kayu tersebut. Nantinya, peserta tersebut memberi komando atau semangat kepada kelompoknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok lain yang memerintahkan untuk menabrak kelompok lainnya.

Kendati demikian, ternyata tradisi Mekotek memiliki makna tersendiri dibalik perayaannya, selain unik, tradisi Mekotek memiliki tiga makna yang tersirat dalam pelaksanaannya yakni: Penghormatan kepada pahlawan Makna pertama adalah penghormatan pada jasa para pahlawan. Sebab, tradisi tersebut merupakan peringatan kemenangan perang Kerajaan Mengwi dalam hal perluasan wilayah pada saat itu.  Alhasil, tradisi tersebut dilaksanakan setiap enam bulan sekali—tepatnya setiap Hari Raya Kuningan.

Tradisi dilakukan pada hari keagamaan tersebut lantaran sebelum bala tentara Kerajaan Mengwi mengadakan perlawanan, Raja bersemedi tepat pada Hari Raya Kuningan. Penolak bala Tradisi Mekotek diyakini dapat menolak bala dan memberi keselamatan, serta kesuburan atau kemakmuran untuk sektor pertanian di Desa Adat Munggu.

Kepercayaan terhadap tradisi tersebut sangat tinggi. Kepercayaan dibuktikan oleh tradisi yang sempat dilarang oleh Belanda saat mereka menjajah Indonesia. Sebab, tradisi Mekotek pada saat itu tidak menggunakan kayu melainkan tombak. Mereka mengira bahwa warga Desa Adat Munggu hendak melakukan pemberontakan atau penyerangan.

Dilarangnya pelaksanaan tradisi Mekotek selama sekitar lima kali tersebut membuat banyak warga yang jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal dunia. Sejak saat itu, tradisi Mekotek diizinkan untuk dilakukan kembali usai adanya negosiasi antara para tokoh adat Munggu dengan Belanda. Pemersatu warga Makna ketiga dalam tradisi Mekotek adalah tradisi tersebut merupakan alat pemersatu warga, terutama para pemuda. Dengan melaksanakannya, para pemuda akan berkegiatan positif dan menjauhi segala macam kegiatan negatif seperti narkoba, minuman keras, dan ugal-ugalan. (*)

Sumber : kompas.com

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF