Mengenal Pawiwahan, Tradisi Pernikahan Adat Hindu di Bali

(Nusantara7.id) – Dalam umat Hindu Bali, dikenal istilah pawiwahan. Berdasarkan jurnal Upacara Pawiwahan Dalam Agama Hindu karya Luh Sukma Ningsih, upacara pawiwahan ini termasuk ke dalam upacara manusia yadnya,
Pawiwahan sejatinya merupakan ikatan suci dan komitmen sepanjang hidup menjadi suami dan istri, serta merupakan ikatan sosial yang paling kuat yang ada antara laki-laki dan perempuan. Wiwaha ini memiliki kedudukan penting dan dipandang mulia dalam kehidupan umat Hindu.

Dalam hal ini, sepasang laki-laki dan perempuan saling mengikatkan diri secara lahir dan batin. Mereka akan menjadi pasangan suami istri untuk membangun rumah tangga, serta melaksanakan tanggung jawab bersama-sama di dalamnya.

Menurut kitab Manusmrti, wiwaha bersifat wajib sekaligus religius karena berkaitan erat dengan kewajiban orang tua untuk melahirkan seorang anak laki-laki guna menebus dosa mereka sendiri.

Upacara pawiwahan ini bertujuan untuk menghasilkan keturunan yang kemudian akan dapat melanjutkan amanat, serta tanggung jawab kepada leluhur melalui upacara penyucian (mabyakala).

Rangkaian Upacara Pawiwahan
Upacara pawiwahan melibatkan tiga kesaksian, yakni dari bhuta saksi (upacara mabyakala), dewa saksi (upacara natab banten pawiwahan), dan manusia saksi (dari kehadiran prajuru adat, keluarga, dan undangan lain).

Berikut merupakan rangkaian upacara pawiwahan.

Menentukan Hari Baik
Upacara pawiwahan diawali dengan menentukan hari baik sesuai dengan kalender Hindu Bali. Tanggal ini biasanya dipilih mulai dari hari calon mempelai pria datang untuk nyedek dan hari berlangsungnya pernikahan.

Pemilihan hari dilakukan atas kesepakatan kedua pihak keluarga. Pemilihan hari ini cukup penting karena dapat mempengaruhi kelancaran berjalannya upacara dan kehidupan mereka ketika sudah bersuami istri nantinya.

Ngekeb
Ngekeb merupakan proses mempersiapkan calon mempelai wanita agar dapat dengan siap menyambut datangnya mempelai pria.

Upacara Ngekeb ini bertujuan untuk mempersiapkan mental calon pengantin serta memanjatkan doa di hadapan Ida Sang Hyang Widhi supaya dianugerahi pernikahan yang kebahagiaan.

Menjemput Calon Pengantin Perempuan
Mempelai wanita kemudian dijemput oleh pihak keluarga laki-laki ke kediaman mempelai laki-laki.

Ketika dijemput, mempelai perempuan harus menggunakan pakaian tradisional khas Bali dengan selimut kuning tipis yang menutupi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hal ini menjadi simbol bahwa, calon pengantin perempuan sudah siap meninggalkan masa lajangnya dan menikah.

Mungkah Lawang
Penjemputannya juga tidak bisa asal. Calon pengantin wanita akan menunggu di kamarnya, lalu perwakilan dari calon mempelai laki-laki akan datang mengetuk pintu kamarnya.

Saat tersebut juga diiringi dengan lagu khasi Bali yang meminta agar dibukakan pintu. Setelah itulah baru mempelai wanita dibawa ke tempat tinggal mempelai laki-laki.

Mesegeh Agung
Sebelum bisa masuk ke dalam halaman rumah, maka kedua mempelai akan melakukan upacara mesegeh agung. Prosesi ini menjadi simbol ucapan selamat datang dari mempelai pria terhadap mempelai perempuan.

Selimut kuning yang semula dikenakan oleh calon mempelai perempuan kemudian diangkat oleh calon ibu mertuanya kemudian ditukar dengan uang satakan. Hal ini menjadi simbol dunia baru dan mengubur semua masa lalu.

Mekala-kalaan atau Mabyakala
Upacara Mabyakala merupakan upacara membersihkan kedua mempelai secara lahir batin, terutama sukla swanita, yang merupakan sel benih pria dan sel benih wanita agar dapat membentuk janin yang suputra.

Urutan proses upacara Mabyakala adalah sebagai berikut.

1. Dilakukan upacara puja yang dipimpin oleh seorang pemimpin upacara.
2. Membakar tetimpug sampai keluar bunyi sebagai simbol pemberitahuan terhadap bhuta kala yang akan menerima pakala-kalaan.
3. Kedua mempelai melangkahi tetimpug 3 kali dan menghadap ke banten pabyakalaan.
4. Tangan kedua mempelai dibersihkan menggunakan segau/tepung tawar.
5. Ibu jari kaki kedua mempelai menyentuh telur ayam mentah sebanyak 3 kali.
6. Kedua mempelai melakukan pengelukatan.
7. Kedua mempelai berjalan mengelilingi banten pesaksian dan kala sepetan. Mempelai wanita harus berjalan di depan sambil menggendong sok dagangan (simbol anak) dan mempelai pria memukul tegen-tegenan (simbol mencari nafkah). Ketika melewati kala sepetan, ibu jari kanan harus menyentuh bakul lambang kala sepetan. Mempelai wanita dipukul dengan 3 buah lidi oleh mempelai pria selama berjalan sebagai simbol kesepakatan sehidup semati.
8. Kedua mempelai memutuskan benang pepegatan, tanda telah memasuki masa Grahasta.

Mewidhi Widana
Kedua mempelai kemudian bersembahyang di sanggah keluarga laki-laki dan dipimpin oleh pemangku sanggah.

Upacara ini bertujuan untuk memberitahu para luluhur keluarga laki-laki bahwa ada pendatang baru dalam anggota keluarganya yang akan melanjutkan keturunannya. Dengan demikian, pernikahan akan sah di depan adat juga masyarakat.

Mejauman
Upacara Mejauman merupakan upacara berpamitan dengan leluhur keluarga mempelai wanita karena kini telah dinikahkan dan menjadi tanggung jawab keluarga mempelai pria.

Kedua mempelai akan datang ke keluarga wanita sambil membawa banten yang berisi alem, sumping, ketipat bantal, kuskus, apem, sumping, kekupa, wajik, buah, dan lauk khas Bali. (AGP/GS)

Baru! Tayangan Video dari Bali Digital Channel

klik: https://s.id/BaliDigitalChannel

#BaliDigitalChannel #Nusantara7

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF