(NS7) – Ignatius Slamet Rijadiatau yang lebih dikenal dengan Slamet Riyadi lahir pada26 Juli 1927 di Kampung Danakusuman, Kota Solo. Dia adalah salah seorang pahlawan nasional yang menjadi tokoh utama dalam Peristiwa Serangan Umum Surakarta.
Jiwa kemiliteran yang dimiliki Slamet Riyadi mengalir dari ayahnya, Idris Prawiropralebdo, yang merupakan seorang perwira rendahan kasunanan Surakarta. Selama hidup, dia dikenal sebagai sosok yang tegas dan pemberani. Dia dikenal karena hampir semua peristiwa kepahlawanan di Kota Solo berada di bawah kepemimpinannya.
Karena keberaniannya dan keberhasilannya dalam melakukan perlawanan terhadap musuh, dia diangkat sebagai Komandan Batalyon saat usianya masih sangat muda, yakni 19 tahun. Berikut kisah hidupnya:
Sosok Pemberani
Meski memiliki sifat pendiam, namun Slamet Riyadi merupakan seorang yang tegas dan pemberani. Hal itu terbukti saat dia berani menerobos masuk ke dalam Markas Kempeitai (polisi militer Jepang) yang dijaga ketat ketika peristiwa peralihan kekuasaan di Solo oleh Jepang.
Selain itu, dia juga pernah berhasil mengobarkan pemberontakan terhadap Jepang dengan menghimpun kekuatan perjuangan yang terdiri dari pemuda-pemuda bekas Peta dan Heiho. Merekalah yang nantinya mempelopori perebutan kekuasaan politik dan militer dari tangan Jepang di Kota Solo.
Oleh karena itu tak heran apabila ia kemudian mendapat kepercayaan untuk menyelesaikan persoalan tawanan Jepang di Solo dan Jawa Timur. Keberhasilan Slamet Riyadi dalam setiap tugasnya membuat kepercayaan terhadap batalyonnya semakin meningkat.
Pada masa perang kemerdekaan, tim batalyon yang dia pimpin menjadi lawan utama pasukan-pasukan Belanda dalam melakukan aksinya di Kota Solo.
Tokoh Utama Peristiwa Serangan Umum di Solo
Pada 7-10 Agustus 1949, pecah peristiwa Serangan Umum di Kota Solo. Dilansir dari laman situs resmi pusat sejarah TNI, serangan dilakukan sesuai perintah Letnan Kolonel Slamet Riyadi dan dipimpin sendiri olehnya. Dengan kecakapan yang dia miliki, Slamet Riyadi memerintahkan pasukannya untuk mengepung Kota Solo dari empat penjuru.
Serangan Umum Kota Solo berlangsung selama 4 hari 4 malam hingga mencapai puncaknya pada tanggal 10 Agustus 1949. Serangan itu tidak dimaksudkan untuk merebut kota, tetapi semata-mata untuk memberikan kesan kepada musuh bahwa TNI masih kuat. Saat serangan, pasukan Belanda benar-benar terdesak sehingga mereka hanya melakukan serangan dari dalam tangsi-tangsi.
Pada akhirnya pasukan-pasukan TNI menghentikan semua kegiatan militernya dan menaati perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman. Pertempuran itu kemudian ditutup dengan prosesi serah terima Kota Solo yang dimediasi pihak United Nations Commission for Indonesia (UNCI).
Gugurnya Slamet Riyadi
Pada 10 Juli 1950, letnan Kolonel Slamet Riyadi bersama pasukannya berangkat ke Ambon untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Namun pada suatu kesempatan, pasukan TNI lengah dan kesempatan itu digunakan dengan baik oleh pasukan RMS untuk melawan.
Serangan RMS memakan banyak korban dari pihak TNI. Melihat pasukannya carut marut, Slamet Riyadi mengambil inisiatif untuk memimpin sendiri pasukannya untuk menggempur benteng kuno New Victoria dengan menaiki panser.
Namun saat ia turun dari panser untuk memberikan aba-aba kepada anak buahnya, dia terkena rentetan tembakan dari pihak musuh. Walaupun usaha pertolongan telah diberikan, namun pada pukul 21.15 tanggal 4 November 1950 Slamet Riyadi gugur.
Dalam hembusan napas terakhirnya, dia menyerukan semangat kepada anak buahnya dengan kalimat, ”Mari, mari kita terus masuk benteng! Mari, mari maju.” Setelah itu suaranya makin tidak terdengar akibat luka parah yang dideritanya.
Sumber : merdeka.com
(AP)