TRADISI MESURYAK DI BONGAN

Tabanan, (NS7) – Banyak budaya dan tradisi warisan leluhur yang bisa kita saksikan di pulau Dewata Bali yang menyuguhkan sesuatu hal unik dan berbeda, menjadikannya sesuatu yang layak untuk anda ketahui dan saksikan dari dekat. Salah satu tradisi yang cukup menarik adalah Mesuryak di desa Bongan Tabanan.

Mesuryak adalah menjadi salah satu warisan budaya, yang merupakan sebuah tradisi unik di pulau Dewata Bali, sehingga membuat desa Bongan di Kabupaten Tabanan ini menjadi perhatian bagi warga Bali lainnya, bahkan bagi wisatawan yang sedang liburan di Bali.

Tradisi Mesuryak di Tabanan ini digelar setiap 6 bulan sekali (210 hari dalam kalender Bali) tepatnya pada hari raya Kuningan atau 10 hari setelah hari Raya Galungan. Tradisi Mesuryak di Bongan Tabanan ini dilakukan mulai pagi hari jam 9.00 kemudian berakhir berakhir jam 12 siang, dan setelah jam 12 siang ini leluhur diyakini telah kembali ke alam surga.

Pulau Dewata Bali, memang memiliki banyak budaya dan tradisi unik, selain selain Mesuryak di desa Bongan Tabanan ada tradisi Mekotek di Munggu, Omed-omedan di Sesetan, Perang Pandan Tenganan, Gebug Ende Seraya dan pemakaman mayat Trunyan, bisa menjadi suguhan atraksi wisata menarik, dan daya tarik sendiri bagi wisatawan yang liburan di Bali.

Tradisi Mesuryak di dusun Bongan Gede, Tabanan, merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan leluhur dan berkembang serta dijaga dengan baik sampai sekarang ini. Mesuryak sendiri berarti bersorak atau berteriak, tapi tentunya dengan maksud dan tujuan tertentu.

Jadi kabupaten Tabanan tidak hanya menawarkan objek wisata ataupun tempat rekreasi alam saja bagi wisatawan tetapi juga atraksi wisata berupa tradisi unik seperti Mesuryak ini yang bisa dinikmati setiap 6 bulan sekali, yang bisa memberi pengalaman liburan baru.

Tradisi tersebut berkaitan erat dengan upacara keagamaan yang dilakukan warga dalam rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, yang berkaitan dengan prosesi penghormatan untuk para leluhur.

Jika anda tertarik dan kebetulan pada hari Raya Kuningan tersebut ada agenda tour di Bali dan melakukan perjalanan wisata ke arah Kabupaten Tabanan, minta supir wisata anda mengarahkan perjalanan anda ke desa Bongan ini, jarak dari objek wisata Tanah Lot hanya sekitar 20 menit berkendara.

Makna Dari Tradisi Mesuryak Di Desa Bongan Tabanan

Setiap budaya dan tradisi yang digelar tentu memiliki makna dan maksud tertentu, sehingga mereka yang melaksanakan tradisi tersebut tidak berhenti dari waktu ke waktu dan melakukanya, begitu juga halnya dengan Mesuryak.

Tujuan dan makna dari tradisi Mesuryak di Desa Bongan Tabanan adalah untuk memberi bekal dan mengantarkan roh leluhur kembali ke alam nirwana dengan rasa suka cita. Oleh umat Hindu para roh leluhur turun ke dunia di saat hari Raya Galungan dan kembali ke surga di Hari Raya Kuningan.

Dan oleh warga desa Bongan Tabanan, saat perayaan Hari Raya Kuningan ini menjadi hari yang tepat, untuk mengantar dan memberi bekal roh leluhur tersebut. Untuk itulah diberikan perbekalan seperti beras dan juga uang sehingga dilakukan tradisi Mesuryak.

Setelah sepuluh hari roh leluhur bersama keluarga di dunia, maka pada hari Raya Kuningan diantarkan kembali dengan suka cita, bersorak beramai-ramai dalam tradisi Mesuryak tersebut. Dalam tradisi tersebut warga melempar uang ke udara diperebutkan oleh warga lainnya.

Sambil mesuryak (bersorak) gembira dan beramai-ramai penuh suka cita, pelaksanaannya secara bergiliran di setiap pintu masuk pekarangan rumah warga desa Bongan, uang yang dilemparkan ke udara oleh pemilik rumah ke udara dan diperebutkan warga jumlahnya beragam, bahkan ada sampai berjumlah jutaan.

Sebelum acara puncak dari tradisi Mesuryak ini digelar, warga melakukan persembahyangan di pura keluarga dan di pura Kahyangan Tiga desa setempat, selanjutnya setiap warga melakukan persembahyangan di depan pintu masuk rumah bisa dipimpin oleh orang yang dituakan atau oleh Pemangku.

Sesaji depan rumah ini ditutup dengan Tradisi Mesuryak, anggota keluarga memberi bekal kepada roh leluhur yang akan kembali ke alam nirwana, perbekalan tersebut berupa uang kepeng, namun sekarang warga lebih cenderung memakai uang logam recehan dan juga uang kertas, bahkan sampai uang pecahan 100-ribuan.

Semuanya sesuai kemampuan dengan suka cita, tanpa paksaan. Uang-uang tersebut dilemparkan ke udara kemudian diperebutkan oleh warga yang telah berkumpul di depan rumah dengan sorakan dan kegembiraan. Bagi yang mempunyai finansial lebih tentu saat Mesuryak digelar bisa saling berbagi dengan warga desa Bongan lainnya.

Tradisi Mesuryak atau lempar uang ke udara ini dilakukan bergiliran dari rumah ke rumah, sehingga setiap warga bisa berebut uang secara adil, bagi yang memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi ada kemungkinan memberi bekal yang lebih banyak juga dan semua dilakukan dengan keikhlasan dan tanpa paksaan.

Dalam balutan kegembiraan setiap warga antusias menyaksikan tradisi Mesuryak ini dan sebagian warga juga berebut hujan uang tersebut. Jumlah yang didapatkanpun bervariasi oleh warga dan ini bukanlah tujuan utamanya, yang menjadi inti, makna dan tujuan tradisi Mesuryak di Tabanan ini adalah rasa bahagia, suka cita memberikan bekal pada leluhur agar kembali ke alam surga dengan damai dan tenang.

Secara Niskala bekal yang diberikan berupa persembahan atau sesajen, dan secara skala (nyata) memberikan bekal uang. Diyakini juga oleh warga dengan memberi bekal kepada leluhur tentu akan ada timbal baliknya juga seperti rejeki yang lebih muda.

Saat tradisi Mesuryak digelar, terpancar rasa kebersamaan dan keakraban antar warga. Tradisi yang sudah mendarah daging ini juga menjadi sebuah atraksi wisata yang bisa dinikmati oleh para wisatawan, termasuk juga para warga.

Warga desa Bongan yang terlibat langsung dalam tradisi tersebut baik itu anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki maupun perempuan, bercampur dan berbaur, berdesak-desakan, bersorak, penuh suka cita dan kegembiraan.

Sumber : balitoursclub.net
(GC)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF